(source: google.com)
Satu kebiasaan yang ringan namun bisa
jadi jarang diterapkan di tengah kehidupan kita sehari-hari adalah menyebarkan
salam. Padahal banyak buah kebaikan yang bisa dipetik dari ucapan yang
mengandung muatan doa ini. Sejalan dengan Islam itu sendiri yang merujuk pada
keselamatan dunia maupun akherat lalu dalam aktivitas setiap harinya mereka
menebarkan salam layaknya nada-nada yang tersusun rapih dan merdu untuk
didingar. Kita sadari bahwa aktivitas mengucap salam digunakan saat kita ingin
memasuki kediaman orang lain. Hal ini memang diperintahkan oleh Allah SWT dalam
firmanya;
“Hai orang-orang
yang beriman jangnlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta
izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu
agar kamu (selalu) ingat.” QS. An-Nur:27
Jelas sekali terdapat dua hal bahwa
apabila ingin memasuki rumah orang lain maka harus meminta izin terlebih dahulu
kepada pemilik rumah dan memberikan salam kepadanya. Begitu indahnya Islam
mengajarkan tata krama budaya yang pada tujuan akhirnya ialah mendoakan si
pemilik rumah selamat dunia akherat. Pada ayat lain menjelaskan bahwa mendoakan
“semoga keselamatan dilimpahkan atas kamu” juga di perintahkan oleh-Nya
“Apabila
orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka
katakanlah: “Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih
sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu
lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan
perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al-An’aam:54
Selain itu, ayat di atas mengandung
pengertian bahwa Allah sangatlah pemaaf, apabila terdapat hambanya berbuat kejahatan
lantaran kebodohanya yang tidak tahu lalu ia bertaubat maka apa yang ia telah
perbuat akan diampuni. Tapi, tentunya dengan mengerjakan kebaikan secara
berlanjut setelah bertaubat.
Namun, tak hanya memasuki rumah saja
mengucap salam. Seperti saat kita sedang berada di majelis ilmu, berada
dijalan, diitelfon, bahkan sampai dalam bentuk tulisan pesan singkat pun mendoakan
kepada orang yang bahkan kita tidak kenal akrab akan menimbulkan rasa kasih
sayang diantara mereka serta mempererat tali persaudaraan. Hal ini sejalan apa
yang diriwayatkan oleh hadits;
“Hak seorang
muslim atas muslim yang lain ada enam.” Beliau pun ditanya, “Apa saja, ya
Rasulullah?” Jawab beliau, “Jika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam
kepadanya. Jika dia memanggilmu, penuhi panggilannya. Jika dia meminta nasihat
kepadamu, berikan nasihat kepadanya. Jika dia bersin lalu memuji Allah,
doakanlah dia. Jika dia sakit, jenguklah dia; dan jika dia meninggal,
iringkanlah jenazahnya.” (HR.
Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)
keadaan masyarakat sekarang heterogen
dalam satu tempat didalamnya terdapat orang islam maupun non islam. Mengingat
tentang larangan jangan mendoakan orang kafir, apakah disini mengucap salam
termasuk didalamnya. Lalu kita harus bersikap bagaimana. Kita bisa mengambil
hikmah dari kisah Nabi Ibrahim AS seorang kekasih Allah karena sifatnya yang
keras dan tegas terhadap sesuatu yang menyekutukan Allah dengan bapaknya seorang
pembuat patung untuk disembah. Ketika Ibrahim mengajak bapaknya untuk kembali
ke jalan yang lurus, bapaknya menolak. Namun Ibrahim tetap mendoakannya.
Seperti tercantum dalam QS. Maryam: 47 dimana kisah tersebut dimulai dari ayat
41
Berkata Ibrahim:
"Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu
kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” QS. Maryam: 47
Coba kita bayangkan ketika orang non
islam menjelek-jelekan kita namun kita membalasnya dengan doa. Sudah barang
itu, bahwa agama islam itu terlihat indah mengajarkan kedamain disetiap
sendi-sendi kehidupan. Mereka tetap mendoakan keselamatan terhadap lingkungan
sekitar meskipun dicaci maki. Inilah yang patut kita amalkan dalam aktivitas
sehari-harinya dalam rangka mencari ridlo dari Tuhan semesta alam yang maha
pengasih lagi maha penyayang.
Mengucap salam yakni mendoakan
keselamatan kepada orang lain tak lepas dari peran organ tubuh yang disebut
lidah. Lidah memang tak bertulang, meski tak bertulang tapi lidah mampu
menciptakan kedamaian dan sebaliknya bisa menimbulkan kekacauan dan bahkan peperangan.
Bagaimana lidah seorang muslim terhindar dari memfitnah orang, menceritakan aib
orang, memaki orang sampai kepada merayu dan menggoda orang. Akibat lisan rumah
tangga orang bisa berantakan, sebuah organisasi bisa terpecah belah, sebuah
negara bisa terjadi perang saudara.
Oleh karena itu, mari kita jaga lisan
kita dari perkataan yang tak berguna dengan cara membasahinya dengan memuji-Nya
”subkhanallah” Maha Suci Allah dengan segala kebesaran-Nya. Serta tetap
menebarkan keselamatan dan kedamaian dimuka bumi. Semoga Allah meridloi. Aammiin