Jumat, 30 Mei 2014

Dalam Bayang

Pertama memandang
Belum kenal saja sudah rindu
Rasa apa ini
Serasa serius diiringi hati menggerus
Oh aku selalu terbayang wajahnya
Kusebut namanya akhirnya
Kucari siapa ia..
Mengapa ia..
Kenapa ia..
Dimana ia..
Bagaimana ia..
Kapan ia..
Lalu..
Kutanya angin malam
Katanya ia sudah aman
Bersama sinar meneranginya
Seraya aku diam
Dalam bayang kegelapan
Yang kubisa hanya memandangya
Tersenyum..

Jum’at, 30 Mei 2014

Kamis, 29 Mei 2014

Silaturahmi, Bukti Mesra Korea Selatan-Indonesia



Kita mestinya salut akan kemajuan Korea Selatan, sehingga kita perlu giat berkontribusi untuk belajar dari negeri gingseng tersebut. Seperti itulah apa yang disampaikan oleh Dr. Mukhtasar Syamsuddin selaku Presiden International Association of Korean Studies (INAKOS) dalam seminar bertemakan Korea-Indonesia Update 2014 “Hubungan Korea Selatan dan Indonesia dalam Perspektif Politik, Sosial, dan Budaya” di AR. Fachrudin A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (30/4). Sementara itu Presiden Kim Sang-Kuk dari Vitamin House Korea juga berharap bahwa perjanjian dan kerjasama yang dilakukan oleh kedua negara ini (Korea Selatan-Indonesia) dapat dikembangkan lebih intens lagi. 
“Indonesia dan Korea bukan lagi sebatas kerjasama budaya, sudah meluas hingga tahap pengembangan bersama kapal selam KF-X” jelas Dewi Savitri Wahab Direktur Asia Timur dan Pasifik dari Kementerian Luar Negeri Indonesia.
Sebuah tarian tradisional Korea ditampilkan diawal acara oleh beberapa penari remaja putri. Gerakan lincah yang diperagakan oleh anak bangsa Indonesia menampilkan keelokan ragam warna dan budaya. Ditambah perpaduan baju hanbook dengan jilbab yang dikenakan beberapa penari seakan menambah indahnya silaturahmi antara kedua negara.

“Aku suka tarian mereka, tapi tetep aksen tarian Indonesia yang lebih keren. Sayangnya tarian Indonesia gak ada,” papar Ninda Kalishta, mahasiswa Hubungan Internasional UMY.(NOR)

Resensi Film: The Heirs "mirip film lokal"



aduh mama sayangeeee hee eee....
awalnya sih aku gak begitu suka dengan yang berbau korea, namun lingkungan yang medukungku untuk... yaa ngintiplah (bisa dibilang gitu, hihihhi)... aku rasa kalian sudah pernah nonton ni film "The Heirs", karena pemeranya lee min ho, (awalnya sudah nonton perannaya dalam film "City Hunter" (hehehe, ini juga gara2 temen aku) ya suka aja sih liat aktingnya).

film ini tak beda dengan film stroy line produk-produk lokal tanah air, ya.. orang korea dalam berkarya bikin film mereka berusaha sebagus mungkin dalam pengemasan produknya. kisahnya sih boleh dibilang anak pembantu miskin, cha eun sang (park shin hye) ketemu dengan Kim Tan (lee min ho) selaku anak kedua pewaris kekayaan perusahaan Jeguk Group. iya sih, dengan bumbu jatuh cinta namun terhalang oleh kasta tak membuat Kim Tan menyerah mempertahankan cha eun sang. anak muda banget sih, (yang nulis udah tua, hahaha).. dengan modal keberanian demi mimpi yang dilindungi di setiap pesan moral ini film.

ada satu tokoh yang aku suka, Young Do, beehh.... aduh mama sayangeeee eee... kerja kerasnya itu lo lima jempol banget. iya sih wajar saja this is his first love nya gitu looh (maklmum belum pengalaman, hahaha). ceritanaya sih mau ngerebut si eun sang. namun tu cewek udah memilih si kim tan untuk menjaga hatinya.
overall keren, mirip banget sih sama sinetron dan ftv lokal, bedanya pengemasan tampilan mereka lebih serius saja.

this is a real life


melihat kehidupan nyata didepan mata
entah mau tersadar atau biar pudar
serasa saya tak pantas atas semangatnya
selalu merasa kaya walau tak punya
sedang saya bisanya terenga-enga
mana yang pertama atau kedua atau ketiga
dia hanya mencari "wining way"
lalu memikul beban dan "take away"
dan kiranya ada juara disana


kisah lain berkata
satu sisi mencoba setia
selalu berkata "aku akan mencintainya"
saat kami bersama
kami sedang disurga
melihat indahnya bunga
dan kami menikmatinya
namun harta berkata, "aku yang berkuasa"
"mau apa??!!"


sama juga halnya mimpi

berbalut asa dan sepi
diiringi dengan melodi hati
ketika PE-MIMPI dikakhiri "N"
menjadi PEMIMPIN
dia hanya bisa bermimpi
berusaha demi aktualisasi
saya bergumam "hiduplah dalam mimpi''
lalu bangun untuk realisasi

Tebarkanlah Salam

(source: google.com)

Satu kebiasaan yang ringan namun bisa jadi jarang diterapkan di tengah kehidupan kita sehari-hari adalah menyebarkan salam. Padahal banyak buah kebaikan yang bisa dipetik dari ucapan yang mengandung muatan doa ini. Sejalan dengan Islam itu sendiri yang merujuk pada keselamatan dunia maupun akherat lalu dalam aktivitas setiap harinya mereka menebarkan salam layaknya nada-nada yang tersusun rapih dan merdu untuk didingar. Kita sadari bahwa aktivitas mengucap salam digunakan saat kita ingin memasuki kediaman orang lain. Hal ini memang diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmanya;
“Hai orang-orang yang beriman jangnlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat.” QS. An-Nur:27
Jelas sekali terdapat dua hal bahwa apabila ingin memasuki rumah orang lain maka harus meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik rumah dan memberikan salam kepadanya. Begitu indahnya Islam mengajarkan tata krama budaya yang pada tujuan akhirnya ialah mendoakan si pemilik rumah selamat dunia akherat. Pada ayat lain menjelaskan bahwa mendoakan “semoga keselamatan dilimpahkan atas kamu” juga di perintahkan oleh-Nya
“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al-An’aam:54
Selain itu, ayat di atas mengandung pengertian bahwa Allah sangatlah pemaaf, apabila terdapat hambanya berbuat kejahatan lantaran kebodohanya yang tidak tahu lalu ia bertaubat maka apa yang ia telah perbuat akan diampuni. Tapi, tentunya dengan mengerjakan kebaikan secara berlanjut setelah bertaubat.
Namun, tak hanya memasuki rumah saja mengucap salam. Seperti saat kita sedang berada di majelis ilmu, berada dijalan, diitelfon, bahkan sampai dalam bentuk tulisan pesan singkat pun mendoakan kepada orang yang bahkan kita tidak kenal akrab akan menimbulkan rasa kasih sayang diantara mereka serta mempererat tali persaudaraan. Hal ini sejalan apa yang diriwayatkan oleh hadits;
“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Beliau pun ditanya, “Apa saja, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Jika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam kepadanya. Jika dia memanggilmu, penuhi panggilannya. Jika dia meminta nasihat kepadamu, berikan nasihat kepadanya. Jika dia bersin lalu memuji Allah, doakanlah dia. Jika dia sakit, jenguklah dia; dan jika dia meninggal, iringkanlah jenazahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)
keadaan masyarakat sekarang heterogen dalam satu tempat didalamnya terdapat orang islam maupun non islam. Mengingat tentang larangan jangan mendoakan orang kafir, apakah disini mengucap salam termasuk didalamnya. Lalu kita harus bersikap bagaimana. Kita bisa mengambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim AS seorang kekasih Allah karena sifatnya yang keras dan tegas terhadap sesuatu yang menyekutukan Allah dengan bapaknya seorang pembuat patung untuk disembah. Ketika Ibrahim mengajak bapaknya untuk kembali ke jalan yang lurus, bapaknya menolak. Namun Ibrahim tetap mendoakannya. Seperti tercantum dalam QS. Maryam: 47 dimana kisah tersebut dimulai dari ayat 41
Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” QS. Maryam: 47
Coba kita bayangkan ketika orang non islam menjelek-jelekan kita namun kita membalasnya dengan doa. Sudah barang itu, bahwa agama islam itu terlihat indah mengajarkan kedamain disetiap sendi-sendi kehidupan. Mereka tetap mendoakan keselamatan terhadap lingkungan sekitar meskipun dicaci maki. Inilah yang patut kita amalkan dalam aktivitas sehari-harinya dalam rangka mencari ridlo dari Tuhan semesta alam yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Mengucap salam yakni mendoakan keselamatan kepada orang lain tak lepas dari peran organ tubuh yang disebut lidah. Lidah memang tak bertulang, meski tak bertulang tapi lidah mampu menciptakan kedamaian dan sebaliknya bisa menimbulkan kekacauan dan bahkan peperangan. Bagaimana lidah seorang muslim terhindar dari memfitnah orang, menceritakan aib orang, memaki orang sampai kepada merayu dan menggoda orang. Akibat lisan rumah tangga orang bisa berantakan, sebuah organisasi bisa terpecah belah, sebuah negara bisa terjadi perang saudara.

Oleh karena itu, mari kita jaga lisan kita dari perkataan yang tak berguna dengan cara membasahinya dengan memuji-Nya ”subkhanallah” Maha Suci Allah dengan segala kebesaran-Nya. Serta tetap menebarkan keselamatan dan kedamaian dimuka bumi. Semoga Allah meridloi. Aammiin

Eksistensi Persma dan Pengaruhnya




                     Pers Mahasiswa sebagai wadah mahasiswa merupakan entitas penting dalam sebuah civitas akademik. Persma memiliki salah satu perbedaan yang mendasar dari pada pers mainstream, yaitu Persma dapat lebih leluasa karena cenderung lebih ideologis dari pada pers umum, dikarenakan kurangnya motif ekonomi di balik kegiatan jurnalistiknya. Itulah salah satu gagasan yang diungkapkan oleh Bambang Wahyu Nugroho, S.IP., M.A. dalam diskusi “Eksistensi Persma dan Pengaruhnya” yang diadakan oleh LPPM Nuansa di ruang sidang Fakultas Ekonomi UMY, Jum’at (2/5).
                     Bambang menjelaskan bahwa pengaruh reformasi tahun 1998 terhadap pers Indonesia salah satunya ialah dimulainya masa kebebasan pers di Indonesia. Kontras dengan nuansa pers Indonesia yang sebelumnya penuh dengan kontrol dan intervensi pemerintah, pasca Reforamasi kebebasan pers mulai terlihat, walau tidak mengurangi kesalahpahaman pers. Kesalahpahaman pers antara lain kesalahan interpretasi masyarakat terhadap berita yang disediakan pers.
                     Berbeda dengan pers mainstream, Persma memiliki peran dan fungsi tersendiri. Salah satunya ialah pengembangan diri mahasiswa. Selain prestasi akademik, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan fisik dan penalarannya, dan Persma merupakan wadah pengembangan penalaran. Selain sebagai wadah penalaran, Persma juga berfungsi sebagai wadah kritik sosial untuk meningkatkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Jika tidak ada kritik dalam civitas akademika, maka Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak akan berkembangujar dosen HI yang akrab dipanggil BWN.
                     Dikarenakan konsumen dari produk Persma mayoritas adalah civitas akademika, maka peran Persma sebagai media penganalisis masalah luar untuk khayalak kampus adalah salah satu peran utama dari Persma, jika bukan terpenting. “Jika misalnya berita dari luar kampus kemudian diliput oleh Persma untuk konsumsi kampus, itu adalah merupakan salah satu perwujudan fungsi Persma” jelasnya. (Aqil)