Pers Mahasiswa sebagai wadah mahasiswa merupakan entitas penting dalam sebuah civitas
akademik. Persma memiliki salah satu perbedaan yang mendasar dari pada pers mainstream, yaitu Persma dapat lebih leluasa karena
cenderung lebih ideologis dari pada pers umum, dikarenakan kurangnya motif ekonomi
di balik kegiatan jurnalistiknya. Itulah salah satu gagasan yang diungkapkan
oleh Bambang Wahyu Nugroho, S.IP., M.A. dalam diskusi “Eksistensi Persma dan
Pengaruhnya” yang diadakan oleh LPPM Nuansa di ruang sidang
Fakultas Ekonomi UMY, Jum’at (2/5).
Bambang
menjelaskan bahwa pengaruh reformasi tahun 1998 terhadap pers Indonesia salah satunya
ialah dimulainya masa kebebasan pers di Indonesia. Kontras dengan nuansa pers Indonesia yang sebelumnya penuh dengan
kontrol dan intervensi pemerintah, pasca Reforamasi kebebasan pers mulai
terlihat, walau tidak mengurangi kesalahpahaman pers. Kesalahpahaman pers
antara lain kesalahan interpretasi masyarakat terhadap berita yang disediakan
pers.
Berbeda
dengan pers mainstream, Persma memiliki peran dan fungsi tersendiri. Salah
satunya ialah pengembangan diri mahasiswa. Selain prestasi akademik, mahasiswa
perlu mengembangkan kemampuan fisik dan penalarannya, dan Persma merupakan
wadah pengembangan penalaran. Selain sebagai wadah penalaran, Persma juga
berfungsi sebagai wadah kritik sosial untuk meningkatkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Jika tidak ada
kritik dalam civitas akademika, maka Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak akan berkembang” ujar dosen HI yang akrab dipanggil BWN.
Dikarenakan
konsumen dari produk Persma mayoritas adalah civitas akademika, maka peran Persma
sebagai media penganalisis masalah luar untuk khayalak kampus adalah salah satu
peran utama dari Persma, jika bukan terpenting. “Jika misalnya berita dari luar
kampus kemudian diliput oleh Persma untuk konsumsi kampus, itu adalah merupakan salah satu perwujudan fungsi Persma” jelasnya. (Aqil)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar