Minggu, 01 Juni 2014

Miskin Membakar Uang



Penetapan Peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) No. 5 tahun 2014 di Kabupaten Kulon Progo menjadi contoh bagi kabupaten lain di Daerah Istime Yogyakarta. Diperlukan regulasi baik secara nasional maupun regional tentang menurunkan prevalensi perokok. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa di Kulon Progo terdapat adanya peningkatan morbiditas atau mortalitas penyakit akibat merokok. Prosentase belanja rokok kebanyakan dilakukan oleh kalangan orang miskin dibandingkan yang kaya, pada tahun 2011 BPS Kulon Progo mencatat Rp. 66Milyar habis digunakan untuk membelanjakan rokok. Hal ini disampaikan oleh dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG. dalam seminar Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Asri Medical Center (AMC), Sabtu (31/5).

Acara yang diusung oleh Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) ini di hadiri oleh dr. Hasto selaku Bupati Kulon Progo, Ir. Agus Nugroho Setiawan, M.P selaku kepala LPKA UMY serta pemberian penghargaan kepada Nur Lisnani Pamela selaku pemilik Pamela Swalayan delapan cabang di Yogyakarta yang tidak menjual rokok serta melarang bagi karyawan untuk merokok di tempat kerja.

Adapun rokok itu sendiri mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan. “Rokok itu kandungan radikal bebasnya yang menyebabkan resiko mata katarak” ungkap dr. Nurfifi Arliani, Sp.M dalam sambutanya selaku Direktur AMC.


“Saya datang kesini untuk lebih memantabkan hati saya berhenti untuk merokok, karena keinginan itu muncul dari diri saya pribadi dan beberapa tekanan dari luar untuk bersikap respect”, kata Ari peserta seminar. (Mj)

Jumat, 30 Mei 2014

Dalam Bayang

Pertama memandang
Belum kenal saja sudah rindu
Rasa apa ini
Serasa serius diiringi hati menggerus
Oh aku selalu terbayang wajahnya
Kusebut namanya akhirnya
Kucari siapa ia..
Mengapa ia..
Kenapa ia..
Dimana ia..
Bagaimana ia..
Kapan ia..
Lalu..
Kutanya angin malam
Katanya ia sudah aman
Bersama sinar meneranginya
Seraya aku diam
Dalam bayang kegelapan
Yang kubisa hanya memandangya
Tersenyum..

Jum’at, 30 Mei 2014

Kamis, 29 Mei 2014

Silaturahmi, Bukti Mesra Korea Selatan-Indonesia



Kita mestinya salut akan kemajuan Korea Selatan, sehingga kita perlu giat berkontribusi untuk belajar dari negeri gingseng tersebut. Seperti itulah apa yang disampaikan oleh Dr. Mukhtasar Syamsuddin selaku Presiden International Association of Korean Studies (INAKOS) dalam seminar bertemakan Korea-Indonesia Update 2014 “Hubungan Korea Selatan dan Indonesia dalam Perspektif Politik, Sosial, dan Budaya” di AR. Fachrudin A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (30/4). Sementara itu Presiden Kim Sang-Kuk dari Vitamin House Korea juga berharap bahwa perjanjian dan kerjasama yang dilakukan oleh kedua negara ini (Korea Selatan-Indonesia) dapat dikembangkan lebih intens lagi. 
“Indonesia dan Korea bukan lagi sebatas kerjasama budaya, sudah meluas hingga tahap pengembangan bersama kapal selam KF-X” jelas Dewi Savitri Wahab Direktur Asia Timur dan Pasifik dari Kementerian Luar Negeri Indonesia.
Sebuah tarian tradisional Korea ditampilkan diawal acara oleh beberapa penari remaja putri. Gerakan lincah yang diperagakan oleh anak bangsa Indonesia menampilkan keelokan ragam warna dan budaya. Ditambah perpaduan baju hanbook dengan jilbab yang dikenakan beberapa penari seakan menambah indahnya silaturahmi antara kedua negara.

“Aku suka tarian mereka, tapi tetep aksen tarian Indonesia yang lebih keren. Sayangnya tarian Indonesia gak ada,” papar Ninda Kalishta, mahasiswa Hubungan Internasional UMY.(NOR)

Resensi Film: The Heirs "mirip film lokal"



aduh mama sayangeeee hee eee....
awalnya sih aku gak begitu suka dengan yang berbau korea, namun lingkungan yang medukungku untuk... yaa ngintiplah (bisa dibilang gitu, hihihhi)... aku rasa kalian sudah pernah nonton ni film "The Heirs", karena pemeranya lee min ho, (awalnya sudah nonton perannaya dalam film "City Hunter" (hehehe, ini juga gara2 temen aku) ya suka aja sih liat aktingnya).

film ini tak beda dengan film stroy line produk-produk lokal tanah air, ya.. orang korea dalam berkarya bikin film mereka berusaha sebagus mungkin dalam pengemasan produknya. kisahnya sih boleh dibilang anak pembantu miskin, cha eun sang (park shin hye) ketemu dengan Kim Tan (lee min ho) selaku anak kedua pewaris kekayaan perusahaan Jeguk Group. iya sih, dengan bumbu jatuh cinta namun terhalang oleh kasta tak membuat Kim Tan menyerah mempertahankan cha eun sang. anak muda banget sih, (yang nulis udah tua, hahaha).. dengan modal keberanian demi mimpi yang dilindungi di setiap pesan moral ini film.

ada satu tokoh yang aku suka, Young Do, beehh.... aduh mama sayangeeee eee... kerja kerasnya itu lo lima jempol banget. iya sih wajar saja this is his first love nya gitu looh (maklmum belum pengalaman, hahaha). ceritanaya sih mau ngerebut si eun sang. namun tu cewek udah memilih si kim tan untuk menjaga hatinya.
overall keren, mirip banget sih sama sinetron dan ftv lokal, bedanya pengemasan tampilan mereka lebih serius saja.

this is a real life


melihat kehidupan nyata didepan mata
entah mau tersadar atau biar pudar
serasa saya tak pantas atas semangatnya
selalu merasa kaya walau tak punya
sedang saya bisanya terenga-enga
mana yang pertama atau kedua atau ketiga
dia hanya mencari "wining way"
lalu memikul beban dan "take away"
dan kiranya ada juara disana


kisah lain berkata
satu sisi mencoba setia
selalu berkata "aku akan mencintainya"
saat kami bersama
kami sedang disurga
melihat indahnya bunga
dan kami menikmatinya
namun harta berkata, "aku yang berkuasa"
"mau apa??!!"


sama juga halnya mimpi

berbalut asa dan sepi
diiringi dengan melodi hati
ketika PE-MIMPI dikakhiri "N"
menjadi PEMIMPIN
dia hanya bisa bermimpi
berusaha demi aktualisasi
saya bergumam "hiduplah dalam mimpi''
lalu bangun untuk realisasi